Ponorogopedia's Blog











Kabupaten Ponorogo sebagai sebuah kota yang di kenal dengan asal Atraksi Reog Ponorogo memiliki beragam objek dan daya tarik wisata. Tentu saja sebagai atraksi utamanya adalah Reog itu sendiri. Namun sebagai kota asal Seni Budaya Reog, ternyata tidak setiap hari kita bisa menjumpai pagelaran seni tradisional ini.

Banyak pertanyaan yang diajukan oleh wisatawan lokal ataupun mancanegara, bahkan masyarakat dari daerah di luar Kabupaten Ponorogo yang menanyakan tentang Reog Ponorogo. Pertanyaan yang sering kali sulit dijawab adalah ” Kapan saya bisa melihat Reog Ponorogo di sana?” atau “Apakah Reog selalu ada saat saya berkunjung di sana?” atau yang satu ini, “Di mana saya bisa melihat Reog bila sewaktu-waktu berkunjung kesana?”. Hal tersebut sangat sulit dijawab bahkan oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo. Kebanyakan jawaban yang diberikan yaitu seputar Grebeg Suro dan Festival Reog yang diselenggarakan di Aloon-aloon Ponorogo.

Hal itu tentu saja aneh, mengingat Ponorogo sebagai kota asal Reog, namun ternyata tidak lazim diadakan sebagai rutinitas untuk menarik kunjungan wisatawan. Setelah mengkonfirmasi masalah tersebut dengan Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Ponorogo, ada sedikit harapan bagi semua kalangan masyarakat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Disparda Ponorogo menjelaskan, bahwasanya Kab. Ponorogo memiliki rutinitas untuk menampilkan Reog Ponorogo sebagai Atraksi Budaya. Rutinitas diadakan bertepatan dengan adanya bulan purnama atau setiap tanggal 14 menjelang 15 kalender jawa atau kalender islam. Beberapa alasan yang muncul adalah karena biaya pengadaan pagelaran Reog tidak sedikit, sehingga di jadwalkannyalah pada setiap Malam Bulan Purnama.

Pagelaran tersebut dilakukan di Panggung Utama Aloon-Aloon Ponorogo pada pukul 19.30 WIB dan apabila terjadi hujan atau kendala lainnya maka tempat pagelaran dipindahkan di Paseban Aloon-Aloon Ponorogo. Pelaku seni yang memainkan pagelaranpun tidak berasal dari satu sanggar tari atau desa, melainkan dari kecamatan-kecamatan di Ponorogo secara acak dan bergiliran. Setiap kecamatan di Ponorogo memikili Yayasan Reog Ponorogo. Bahkan, dari salah satu sumber yang bisa dipercaya, hampir seluruh desa di Ponorogo memiliki Reog. 1 Kecamatan memiliki beberapa desa, yang juga memiliki Reog. Artinya setiap Kecamatan memiliki beberapa Reog.

Bapak Bambang Wibisono selaku Kepala Bidang Kebudayaan turut menjelaskan bahwa pemilihan Reog yang akan tampil mewakili setiap kecamatan ini memiliki beberapa cara pemilihan. Kecamatan A memilih Reog yang akan tampil adalah dari Desa AB karena Desa tsb memiliki Reog dan Penari terbaik dibandingkan dari Desa lainnya di Kecamatan yang sama. Kecamatan B memilih penari-penari terbaik dari beberapa desa yang ada di lingkungan Kec. B agar dapat menjadi susunan kelompok tari terbaik dari Kecamatan tsb. Kecamatan C melakukan rolling atau perputaran dari satu desa kemudian desa yang lain, misalnya tahun ini adalah desa CA dan tahun depan giliran desa CB yang akan tampil demikian seterusnya. Hal tersebut tergantung pada kebijakan pejabat kecamatan setempat.

Untuk mengetahui jadwal pementasan Reog Ponorogo berikut dengan perwakilan kecamatan yang menampilkan pagelaran sendra tari tersebut bisa dilihat di lampiran file yang bisa diunduh di bawah ini.
JADWAL PENTAS REYOG MALAM BULAN PURNAMA DAN ATRAKSI TARI DI PANGGUNG UTAMA ALOON



Kabupaten Ponorogo memiliki daya tarik wisata baik berupa objek dan budaya yang berkisar ± 30 daya tarik wisata. Bentuk objek tersebut ada 2 yaitu alam dan buatan. Meski masih merupakan daerah yang belum begitu berkembang, namun pariwisata Kabupaten Ponorogo sudah mampu menarik wisatawan baik lokal, nusantara maupun wisatawan mancanegara.
Adapun Akomodasi yang tersedia ialah beberapa Hotel melati, Rumah makan, dan Kafe. Sarana dan Prasarana yang mendukung ialah telepon, listrik, PDAM, Pertamina, dan Sarana kesehatan.
Menurut potensi pariwisata yang sudah ada dan dapat dikembangkan begitu beragam. Identifikasi potensi dan diklasifikasikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan pada Bab III Pasal 4 yang membahas Obyek Daya Tarik Wisata, berikut penjelasannya :
A. Ciptaan Tuhan (Alam)
a. Telaga Ngebel
Objek wisata ini berada di Kecamatan Ngebel yang terletak 24 Km ke arah timur laut Ponorogo. Telaga Ngebel berada di lereng Gunung Wilis dengan ketingian 734 meter dari permukaan laut dan suhu 22ºC – 32ºC. Luas permukaan telaga ini sekitar 1,5 Km, dikelilingi oleh jalan sepanjang 5 Km. Kawasan ini memiliki panorama yang menakjubkan, udara yang sejuk dengan kondisi alam yang masih perawan yang menyimpan sejuta potensi untuk digali.

b. Gua Lowo
Terletak di Kecamatan Sampung, ± 20 Km dari pusat kota.Gua Lowo berarti Gua Kelelawar dan gua ini memiliki nilai arkeologis.

c. Gua Mingging
Terletak di Kecamatan Sawoo, ± 20 Km dari pusat kota.

d. Air Terjun Toya Marto
Air terjun ToyomartoTerletak di Kecamatan Ngebel, ± 35 Km dari pusat kota. lokasi sangat baik untuk jiwa petualang.

e. Air Terjun Platuk / Coban Temu
Terletak di Kecamatan Sooko, ± 30 Km dari pusat kota.

f. Taman Wisata Kucur
Terletak di Kecamatan Badegan, ± 20 Km ke arah barat kota. Terdapat sumber air (kucur) ditengah-tengah hutan jati yang juga berfungsi sebagai hutan wisata dan juga bumi perkemahan.

B. Buatan Manusia (museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreaksi, dan tempat hiburan)

a. Wisata Budaya
Reog Ponorogo1) Reog
Kesenian ini sudah dikenal luas baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Tiap tahun digelar Festival Reog Nasional bersamaan dengan peringatan hari jadi Kabupaten Ponorogo dan perayaan Gerebeg Suro. Kesenian Reog ini juga dipentaskan tiap malam bulan purnama di Paseban Aloon-aloon Ponorogo.
2) Grebeg suro
Peristiwa ritual budaya yang sekaligus menjadi ajang pesta rakyat Ponorogo. Diadakan tiap menjelang bulan Suro, biasanya dimulai seminggu sebelum tanggal 1 Suro ditandai dengan aneka kegiatan lomba maupun pameran dan diakhiri dengan larungan di Telaga Ngebel. Berikut acara yang diselenggarakan setiap Perayaan Gerebeg Suro:

a) Festival Reog Ponorogo tingkat nasional
Festival ini diselenggarakan, selain mempertahankan budaya dan ciri khas Kabupaten Ponorogo juga sebagai pendongkrak jumlah wisatawan. Peserta yang turut memeriahkan HUT Kabupaten Ponorogo ialah daerah yang notabene jauh dari jawa, terutama Ponorogo, Jawa Timur.

b) Lintas Sejarah / Kirab Pusaka
Lintas Sejarah / Kirab PusakaLintas sejarah atau kirab pusaka ini dimaksudkan untuk mengenang perpindahan kadipaten atau pusat pemerintahan dari kediaman bathoro katong menuju kantor Kabupaten yang sekarang. Yang ikut serta dalam kirab sejarah adalah sesepuh Ponorogo yang membawa benda-benda pusaka, pemimpin daerah dan kepala dinas yang bertugas, serta Kakang Senduk yang mewakili Kabupaten Ponorogo sebagai Duta Wisata.

c) Festival Kakang Senduk
Acara ini digelar jauh hari sebelum Grebek suro. Merupakan suatu festival yang mencari calon duta wisata yang mampu mempromosikan dan menjaga hubungan dengan duta wisata lainnya sehingga tercipta keharmonisan masyarakatnya terutama di bidang Pariwisata.

d) Larungan / Larung Sesaji
Larung SajiLarungan merupakan upacara persembahan sebagai ucapan rasa syukur dalam bentuk (melarung) mendorong tumpeng, makanan dan kurban ketengah telaga.

3) Gajah-gajahan
Kesenian ini berupa arak-arakan musik dan patung gajah. Di dalam patung gajah tersebut ada beberapa orang yang menggerakkan patung tersebut agar bisa berjalan. Di atasnya ada 2 orang anak. Kesenian ini banyak dipengaruhi oleh budaya Islam.

4) Odrot
Seni musik yang dipengaruhi oleh seni pertunjukkan Islam. Biasanya dipentaskan pada saat hajatan pernikahan atau sunatan.

5) Kongkil
Seni yang memadukan unsur tari dan musik tradisional. Kesenian ini biasanya dipentaskan kurang dari 10 orang penabuh gamelan dan penari. Dan kekhasannya adalah alat musiknya berupa bambu besar yang ditiup.

6) Wayang Kulit
wayangKesenian khas jawa ini selalu dipentaskan pada malam bulan purnama di Paseban Aloon-Aloon Kabupaten Ponorogo. Hal ini merupakan suatu bentuk pelestarian budaya jawa di Ponorogo.
( Sumber data: Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Ponorogo)

b. Wisata Agro
1) Agrowisata Jeruk Keprok, Pulung
Kabupaten Ponorogo dikenal secara luas sebagai sentra produksi buah jeruk, khususnya Jeruk Keprok Pulung. Jeruk Keprok Pulung sudah mempunyai pasar yang baik di kota-kota besar di Pulau Jawa. Ini sebagai salah satu penopang kebutuhan keluarga dan bahkan juga sebagai sumber ekonomi keluarga.

2) Agrowisata Jeruk Sipon / Siem, Ponorogo
Jeruk Sipon (Siem Ponorogo) merupakan sekitar dari 40 % dari populasi jeruk di Kabupaten Ponorogo. Jeruk Sipon (Siem Ponorogo) banyak dibudidayakan petani pada wilayah dengan ketinggian antara 100 – 400 meter dari permukaan air laut, yaitu berada di Kecamatan Balong, Slahung, Jambon dan Sambit.
Ciri-ciri jeruk keprok siem Ponorogo atau yang dikenal dengan jeruk sipon antara lain rasa buah manis dan segar, keadaan permukaan kulit halus dan rata, kulit buah tipis, dan tingkat kekerasan buah lunak.

3) Agrowisata Durian dan Nangka, Ngebel
Agrowisata yang satu ini memang tidak begitu dikenal layaknya agrowisata lain, namun durian dari Kabupaten Ponorogo, khususnya Ngebel sangat tebal dan lezat. Sehingga banyak konsumen yang jauh-jauh datang dari luar daerah hanya untuk membeli buah Durian Ngebel. Namun sayangnya buah ini merupakan buah musiman, jadi memikili high season dan low season. Selain itu ada juga nangka. (Sumber data : Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo, 2004 )

c. Wisata Religi
Makam Bathoro Katong1. Makan Bathoro Katong
Terletak di desa Setono Kecamatan Jenangan, ± 2 Km ke arah timur dari pusat kota. Bathoro Katong adalah pendiri sekaligus Bupati Ponorogo yang pertama dan juga tokoh penyebar agama Islam di Ponorogo.

2. Makam Jayeng Rono
Jayengrono adalah putra dari Harjo Mataundari Kasunanan Surakarta. Sewaktu beliau membuka hutan, beliau menemukan jeruk yang berbau pesing sehingga daerah itu dijuluki Jeruksing. Selanjutnya dia bergerak ke arah timur dan menjadi Bupati Pedanten yang sekarang bernama Kecamatan Pulung. Daerah ini menjadi ‘desa perdikan’.

3. Makam Astana Srandil
Makam ini berada di salah satu kaki bukit Kecamatan Badegan, 15 Km kearah barat dari pusat kota. Disini dimakamkan Bupati Sumoroto dan keturunannya.

4. Makam Merto Hadinegoro
Terletak di Desa Tajug Kecamatan Siman. Luas komplek makam ini adalah 1,5 ha. Disini dimakamkan R. Adipati Mertohadinegoro, Bupati Pertama Ponorogo (kota tengah). Beliau keturunan Jayengrono dan Bathoro Katong.

sendang tirta jati waluyo5. Sendang Tirta Waluyojati
Terletak di Desa Klepu, Kecamatan Sooko, yang terletak kira-kira 30 Km sebelah timur kota Ponorogo. Merupakan salah satu tempat ziarah umat Katholik di Pulau Jawa untuk menghormati Bunda Maria. Sendang ini dilatarbelakangi oleh hutan pinus dan juga air sendang yang asli.

Masjid Tegal Sari6. Masjid Tegal Sari
Masjid ini berlokasi di Kecamatan Jetis. Masjid ini peninggalan Kyai Ageng Mohammad Besari, keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

d. Wisata Kuliner
a. Sate Ayam Ponorogo
Sate Ayam PonorogoDi Kabupaten tepatnya Jl. Lawu merupakan sentra produksi Sate Ayam khas Ponorogo. Yang membedakan dengan sate-sate lainnya adalah rasanya gurih dan manis. Potongan dagingnya besar-besar, dan bebas lemak. Setiap irisan dipotong memanjang, dan tidak hanya menyajikan bagian daging ayam saja, biasanya sate ayam Ponorogo, menyediakan kulit ayam, jeroan, dan telur.

Dodol Jenang Mirahb. Dodol Jenang, Mirah – Ponorogo
Desa ini menjadi sentra produksi jenang dodol terkemuka di Ponorogo. Selain enak, jenang dodolnya pun memiliki variasi rasa sesuai kegemaran konsumen.

Dawet Jabung Ponorogo

c. Dawet Jabung, Ponorogo
Tidak jauh berbeda dengan dawet yang lainnya seperti dawet ayu atau dawet gempol, dawet ini memakai gula aren sebagai pemanis. Isinya dibuat dari tepung kanji yang berwarna putih yang dibentuk seperti bola-bola berukuran sedang. Berbeda dengan dawet ayu yang menggunakan gula merah/gula jawa dan isinya berwarna hijau berukuran kecil.

e. Wisata Kota / Buatan
1) Taman wisata Ngembak, Tonatan.
Taman ini berlokasi di Kecamatan Siman kira-kira 3 Km ke arah timur dari pusat kota. Berupa sumber air yang dilengkapi dengan taman bermain dan kolam renang anak. Disini juga sering diadakan pentas hiburan yang ditunjukkan bagi pengunjung taman.

Blok-M Ponorogo2) Taman kota ‘Blok Macan’ – Kabupaten, Ponorogo
Taman ini adalah hasil jerih payah dinas pertanaman sehingga taman yang sangat luas di daerah komplek kantor Kabupaten Ponorogo memiliki varietas tanaman yang sangat beragam dan berwarna-warni. Ditengah ada air mancur yang di hiasi dengan patung Putri Songgo Langit (tokoh sejarah Reog Ponorogo). Sebagai identitas tempat ini, ditengah gerbang masuk dan keluar ada 9 patung macan. ( Sumber data : Wikipedia.org/ponorogo )

Graha Krida Sasana Praja3) Gardu pandang kantor Kabupaten
Tempat ini terletak tepat di ujung lantai 8 kantor Kabupaten Ponorogo. Tempat ini dibuka mulai sore (setelah pegawai pulang kantor), dan memiliki daya tarik yang berupa pemandangan daerah Kabupaten Ponorogo dari ketinggian.



Diantara sederet kegiatan pariwisata dan budaya yang ada di Kabupaten Ponorogo, Festival Kakang Senduk merupakan salah satu unggulan dan cukup menarik minat mayarakat Ponorogo. Festival ini diadakan satu paket dengan rangkaian kegiatan Perayaan Grebeg Suro atau Tahun Baru Islam di Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini merupakan suatu wadah pencarian muda-mudi Ponorogo berbakat yang siap menjadi duta wisata dan wakil Kabupaten Ponorogo untuk menyampaikan promosi pariwisata, menjaga hubungan baik dengan masyarakat ponorogo maupun masyarakat indonesia, serta menjalin persahabatan dengan Duta Wisata dari kabupaten lainnya di Indonesia.

Rangkaian Jadwal Festifal Kakang Senduk ini dimulai sejak 1 bulan sebelum perayaan Grebeg Suro mengingat ada beberapa fase yang harus ditempuh. Festival Kakang Senduk ini membuka pendaftarannya pada tanggal 15 November sampai 30 November 2009. Syarat pendaftaran yang utama adalah peserta merupakan penduduk ponorogo dengan usia 18-25 Tahun yang ditunjukan dengan KTP Ponorogo. Selain itu, peserta masih harus memenuhi persyaratan lainnya serta membayar uang pendaftaran sebesar Rp 150.000,-/orang. Persyaratan selengkapnya dapat dilihat dibawah.

Kemudian setelah melakukan pendaftaran sesuai dengan persyaratan yang diajukan, Peserta akan diberikan Pembekalan sebagai awal kegiatan ini. Pembekalan dijadwalkan pada tanggal 3 Desember 2009 berlokasi di Gedung PKK Kabupaten Ponorogo dan di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo. Peserta yang telah mengikuti Pembekalan, kemudian dapat disaring pada awal tes yaitu Tes Tulis yang diadakan pada tanggal 5 Desember 2009 di Gedung Bappeda Kabupaten Ponorogo. Tes selanjutnya adalah Tes Talent atau Tes Bakat guna mendapatkan peserta dengan Kualitas yang sesuai dengan Kriteria Kakang Senduk Ponorogo, yang dapat mewakili Ponorogo bukan saja penampilan dan wawasan, tetapi juga Ketrampilan dan Kesenian Budaya Kabupaten Ponorogo. Tes Talent ini dilaksanakan di tempat yang sama dengan Lokasi Pembekalan, yaitu Gedung PKK dan Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo. Tes ini juga dibarengi Wawancara seputar pribadi peserta, kegiatan dan harapannya terhadap ajang ini. Tes Talent dan Wawancara dilakukan pada tanggal 6 Desember 2009 dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB.

Pada tanggal 13 Desember pukul 19.00 WIB merupakan event paling dinanti baik bagi peserta maupun masyarakat Ponorogo umumnya, karena pada malam ini akan dinobatkannya satu pasang muda-mudi Kabupaten Ponorogo untuk menyandang gelar “kakang” dan “senduk” dan menjalankan tugas sebagai duta wisata selama 1 periode jabatan. Grand Final Kakang Senduk dilaksanakan di Gedung Graha Watoe Dhakon, lingkungan kampus STAIN Ponorogo. Dari jumlah pendafatar yang melebihi seratus orang, maka pada malam ini hanya akan muncul sepuluh pasang peserta yang lolos berbagai seleksi di atas. Para peserta ini adalah peserta dengan kualitas penampilan, wawasan dan ketrampilan yang memadai sebagai calon Duta Wisata Ponorogo. Layaknya ajang pemilihan duta wisata, duta negara, maupun duta kecantikan seperti Miss Indonesia, Puteri indonesia, dsb, Grand Final Kakang Senduk ini juga menampilkan berbagai atraksi yang ditunjukan oleh peserta, ada juga tes wawasan dan Peragaan Pesona dalam balutan Kebaya atau Baju khas Duta Wisata Kakang Senduk, hingga puncak acara adalah Penobatan Kakang Senduk Ponorogo.

Berikut ini adalah gambaran Proses Seleksi serta malam puncak penobatan Kakang Senduk Ponorogo 2009.

PERSYARATAN-PEMILIHAN-DUTA-WISATA-PONOROGO



{November 7, 2009}   Kabupaten Ponorogo (Prologue)

Gapura Selamat Datang Kabupaten Ponorogo

Gapura Selamat Datang Kabupaten Ponorogo

Kabupaten Ponorogo di dalam peta Indonesia hanyalah seberkas noktah di antara ribuan titik-titik. Namun dalam dunia kepariwisataan di Indonesia, Kabupaten Ponorogo menempati ruang khusus karena potensi kepariwisataannya yang menonjol. Kabupaten Ponorogo adalah salah satu dari sekian banyak kabupaten yang terletak di bagian barat propinsi Jawa Timur. Kabupaten Ponorogo mempunyai beberapa potensi alam dengan keindahan yang sangat menawan. Namun seiring dengan perkembangan perekonomian yang mulai menaruh harapan besar pada pariwisata, maka diperlukan promosi yang baik di bidang kepariwisataan.

Kabupaten Ponorogo tidak hanya memiliki potensi menarik yang berupa keindahan alamnya, tetapi ada juga potensi menarik lainnya yang berupa kesenian daerah, budaya, ataupun tradisi dari masyarakat setempat yang dapat menarik perhatian masyarakat daerah lain ataupun wisatawan asing untuk mengunjungi Kabupaten Ponorogo. Beberapa contoh objek wisata yang terkenal di Kabupaten Ponorogo seperti, Telaga Ngebel dan Air Terjun Toya Marto yang terletak di Kecamatan Ngebel, atau juga atraksi wisata yang juga merupakan budaya khas dari Kabupaten Ponorogo, yaitu Pertunjukan Reog Ponorogo yang dapat menjadi salah satu daya tarik wisata.

Kabupaten Ponorogo adalah sebuah daerah di wilayah Proponsi Jawa Timur yang berada pada posisi 200 Km sebelah barat daya ibu kota propinsi, dan 800 Km dengan ibu kota Negara Indonesia. Luas wilayah yaitu ± 1.371,78 Km2 yang berada di antara 111°7’ – 111° 52’ Bujur Timur 7° 49’ – 8° 20’ Lintang Selatan, dengan batas wilayahnya sebagai berikut :

Utara               : Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk.

Timur              : Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek.

Barat daya      : Kabupaten Pacitan.

Barat               : Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah).

Kondisi topografi Kabupaten Ponorogo bervariasi mulai daratan rendah sampai pegunungan dengan ketinggian antara 92 s/d 2563 meter DPL. Berdasarkan data yang ada, sebagai besar wilayah kabupaten ponorogo yaitu 58,79 %-nya terletak di antara 100m s/d 500m dengan rata-rata berkisar curah hujan 2.250 mm/tahun.

Hal ini berarti secara topografis dan klimatologis, Kabupaten Ponorogo merupakan daratan rendah dengan iklim tropis yang mengalami dua musim kemarau dan musim penghujan dengan suhu udara berkisar antara 18˚ s/d 31˚ Celcius. Oleh karena itu secara spesifik Kabupaten Ponorogo merupakan daerah agraris dengan beberapa potensi sumber daya alam lain yang mendukung terhadap usaha pertanian. Areal kedua adalah wilayah ketinggian  antara 500 m s/d 1000 m yang secara topografi merupakan daerah perkebunan yang potensi untuk pengembangan tanaman buah-buahan yang bernilai ekonomis tinggi, dengan beberapa komoditi seperti jeruk keprok, durian dan manggis.

Dengan mengenali Kabupaten Ponorogo sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata akan mempermudah dalam mempromosikan dan mengelola sumber-sumber tersebut agar mampu memiliki nilai jual kepada masyarakat luas, dalam hal ini dapat diartikan sebagai Wisatawan. Wisatawan akan terus mencari objek dan atraksi wisata yang unik, sehingga kesempatan untuk mengembangkan pariwisata sangat besar. Kabupaten Ponorogo harus bersaing dengan banyaknya objek-objek wisata lain dalam memperebutkan perhatian wisatawan. Bukan hal yang mudah, tetapi menjadi faktor pendorong bagi Kabupaten Ponorogo untuk menunjukkan daya saing tinggi dan keunikan serta kualitas yang semakin unggul.



et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.